Update IHSG 29 Januari 2026 terpantau grafik merah
Jakarta - Pergerakan pasar saham Indonesia pada Kamis, 29 Januari 2026, menunjukkan tekanan sejak awal perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau bergerak di zona merah, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam merespons berbagai sentimen yang berkembang, baik dari dalam negeri maupun global.
Tekanan jual terlihat cukup merata di sejumlah sektor, meskipun tidak disertai aksi jual panik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor cenderung memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali melakukan pembelian agresif.
1.Kondisi IHSG Sejak Pembukaan Perdagangan
a.Tekanan jual muncul sejak awal sesi
Sejak pembukaan perdagangan pagi, IHSG langsung bergerak melemah dan berada di bawah level penutupan sebelumnya. Tekanan jual muncul dari sejumlah saham berkapitalisasi besar yang selama beberapa hari terakhir menjadi penopang indeks.
Meski pelemahan terjadi, pergerakan IHSG masih tergolong terkontrol. Tidak terlihat lonjakan volume jual yang ekstrem, menandakan bahwa sebagian investor masih memilih bertahan sambil memantau perkembangan pasar.
Kondisi ini umum terjadi setelah periode penguatan atau menjelang rilis sentimen penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar.
b.Pergerakan cenderung fluktuatif namun tetap di zona merah
Sepanjang sesi awal, IHSG bergerak fluktuatif dengan rentang pergerakan yang relatif sempit. Upaya penguatan sempat muncul, namun belum cukup kuat untuk membawa indeks kembali ke zona hijau.
Setiap kali terjadi rebound kecil, tekanan jual kembali muncul. Pola ini menunjukkan adanya aksi ambil untung dari investor jangka pendek, sementara investor jangka menengah dan panjang masih memilih menahan posisi.
2.Tekanan yang Datang dari Saham-Saham Unggulan
a.Saham berkapitalisasi besar ikut terkoreksi
Saham-saham unggulan atau blue chip menjadi salah satu penyumbang tekanan terhadap IHSG hari ini. Beberapa saham yang sebelumnya mengalami kenaikan mulai mengalami koreksi wajar, seiring investor merealisasikan keuntungan.
Koreksi pada saham-saham besar ini berdampak signifikan terhadap indeks karena bobotnya yang besar. Meski demikian, koreksi yang terjadi masih dianggap normal dalam dinamika pasar saham.
Investor cenderung tidak langsung keluar dari pasar, melainkan melakukan penyesuaian portofolio.
b.Sektor tertentu mengalami tekanan lebih dalam
Selain saham unggulan, tekanan juga terlihat pada sektor-sektor tertentu yang sensitif terhadap sentimen global. Saham di sektor ini mengalami pelemahan lebih dalam dibandingkan sektor defensif.
Di sisi lain, masih ada beberapa saham yang mampu bertahan atau bergerak relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG tidak bersifat menyeluruh, melainkan selektif tergantung pada karakter masing-masing sektor.
3.Sentimen Global yang Membayangi Pergerakan Pasar
a.Investor merespons dinamika pasar global
Pergerakan IHSG hari ini tidak terlepas dari pengaruh sentimen global. Pasar saham dunia sebelumnya bergerak bervariasi, membuat investor di pasar domestik memilih bersikap lebih berhati-hati.
Ketidakpastian global sering kali membuat aliran dana bergerak lebih selektif. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum kembali agresif.
Sentimen seperti ini biasanya berdampak langsung pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
b.Sikap wait and see masih mendominasi
Alih-alih panik, mayoritas pelaku pasar terlihat mengambil sikap wait and see. Mereka memilih mengamati perkembangan situasi sebelum menentukan langkah lanjutan.
Sikap ini tercermin dari pergerakan indeks yang melemah secara perlahan, bukan jatuh tajam. Hal ini memberi sinyal bahwa pasar masih dalam fase konsolidasi, bukan pembalikan tren besar.
4.Respons Investor Domestik dan Asing
a.Aktivitas investor domestik masih cukup aktif
Investor domestik terlihat masih aktif melakukan transaksi, terutama pada saham-saham lapis kedua dan ketiga. Aktivitas ini membantu menjaga likuiditas pasar meski IHSG berada di zona merah.
Banyak investor domestik memanfaatkan koreksi sebagai kesempatan untuk mengamati saham incaran, meskipun belum melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Hal ini mencerminkan kepercayaan bahwa pelemahan saat ini masih bersifat jangka pendek.
b.Investor asing cenderung lebih selektif
Sementara itu, investor asing terlihat lebih selektif dalam mengambil posisi. Pergerakan dana asing cenderung berhati-hati, sejalan dengan kondisi pasar global yang belum sepenuhnya stabil.
Investor asing biasanya lebih sensitif terhadap sentimen global, sehingga respons mereka sering kali lebih cepat dalam mengurangi atau menambah eksposur di pasar saham.
5.Analisis Sementara Arah IHSG
a.Pelemahan dinilai masih dalam batas wajar
Secara umum, pelemahan IHSG pada 29 Januari 2026 masih dinilai dalam batas wajar. Tidak ada indikasi tekanan ekstrem yang mengarah pada panic selling.
Kondisi ini sering terjadi sebagai bagian dari dinamika pasar, terutama setelah periode pergerakan yang cukup aktif. Selama tidak disertai sentimen negatif besar, pelemahan justru bisa menjadi fase penyeimbang.
b.Pasar masih mencari katalis baru
IHSG saat ini berada dalam fase mencari katalis baru untuk menentukan arah selanjutnya. Tanpa dorongan sentimen kuat, pasar cenderung bergerak sideways dengan kecenderungan fluktuatif.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan pasar dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa berdasarkan pergerakan harian semata.
Kesimpulan
Update IHSG 29 Januari 2026 menunjukkan pergerakan indeks yang terpantau di zona merah, dengan tekanan jual yang masih terkendali. Investor terlihat lebih berhati-hati dan memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali agresif.
