Cara menganalisa saham yang under value
Istilah saham undervalue sering terdengar sangat menarik, terutama bagi investor pemula. Banyak orang tergoda membeli saham hanya karena harganya terlihat murah, tanpa benar-benar memahami apakah saham tersebut memang undervalue atau justru murah karena bermasalah. Padahal, saham undervalue tidak selalu berarti harga rendah, melainkan harga pasar yang berada di bawah nilai wajar perusahaan.
Menganalisa saham undervalue membutuhkan kesabaran dan logika, bukan sekadar mengikuti rekomendasi atau rumor. Artikel ini akan membahas cara menganalisa saham yang undervalue secara bertahap, santai, dan mudah dipahami, agar investor tidak terjebak pada saham yang kelihatannya murah tetapi berisiko tinggi.
1.Memahami Perbedaan Saham Murah dan Saham Undervalue
a.Harga murah belum tentu bernilai murah
Kesalahan paling umum investor pemula adalah menyamakan saham murah dengan saham undervalue. Saham dengan harga seribu rupiah bisa terlihat murah, tetapi jika kinerja perusahaannya buruk, saham tersebut justru mahal secara nilai.
Saham undervalue adalah saham yang nilai bisnisnya lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini. Artinya, pasar belum sepenuhnya menghargai potensi atau kualitas perusahaan tersebut. Perbedaan ini sangat penting agar investor tidak salah langkah sejak awal.
Dengan memahami konsep ini, investor belajar untuk tidak fokus pada harga nominal, tetapi pada nilai di balik perusahaan.
b.Nilai perusahaan lebih penting dari angka di layar
Nilai perusahaan tercermin dari kemampuan menghasilkan keuntungan, aset yang dimiliki, dan prospek bisnis ke depan. Harga saham hanyalah refleksi sementara dari persepsi pasar, yang bisa dipengaruhi emosi dan sentimen jangka pendek.
Investor yang mencari saham undervalue harus membiasakan diri melihat lebih dalam, melewati fluktuasi harga harian. Di sinilah peran analisa fundamental menjadi sangat penting.
2.Menganalisa Kinerja Keuangan Perusahaan
a.Laba yang stabil dan berkualitas
Salah satu ciri saham undervalue adalah perusahaan tetap mampu mencetak laba meski harga sahamnya sedang ditekan pasar. Investor perlu melihat apakah laba perusahaan stabil atau tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Laba yang berkualitas biasanya berasal dari bisnis utama, bukan dari penjualan aset atau keuntungan sesaat. Jika laba konsisten tetapi harga saham turun, ada kemungkinan saham tersebut sedang undervalue karena sentimen jangka pendek.
Melihat tren laba membantu investor memahami apakah perusahaan benar-benar layak dihargai lebih tinggi.
b.Arus kas sebagai cermin kondisi nyata
Selain laba, arus kas sering kali menjadi pembeda antara perusahaan sehat dan yang hanya terlihat bagus di atas kertas. Perusahaan undervalue yang berkualitas biasanya memiliki arus kas operasional positif.
Jika perusahaan untung tetapi arus kas terus negatif, investor perlu berhati-hati. Saham undervalue yang baik seharusnya memiliki kemampuan menghasilkan uang tunai dari operasional bisnisnya.
3.Membandingkan Valuasi dengan Perusahaan Sejenis
a.Valuasi rendah dibandingkan kompetitor
Analisa saham undervalue tidak bisa dilakukan sendirian tanpa pembanding. Investor perlu membandingkan valuasi perusahaan dengan perusahaan sejenis di sektor yang sama.
Jika perusahaan memiliki kinerja keuangan yang mirip atau lebih baik, tetapi valuasinya jauh lebih rendah, ini bisa menjadi indikasi saham undervalue. Perbandingan ini membantu investor melihat apakah pasar terlalu pesimis terhadap perusahaan tersebut.
Namun, perbandingan harus dilakukan secara adil dan relevan, bukan asal membandingkan dengan perusahaan yang berbeda karakter bisnisnya.
b.Konteks industri sangat menentukan
Setiap industri memiliki standar valuasi yang berbeda. Apa yang dianggap mahal di satu sektor bisa dianggap wajar di sektor lain. Oleh karena itu, investor harus memahami karakter industri tempat perusahaan beroperasi.
Dengan memahami konteks industri, investor bisa menilai apakah valuasi rendah tersebut merupakan peluang atau justru sinyal masalah struktural.
4.Memahami Sentimen Pasar yang Menekan Harga
a.Sentimen jangka pendek sering menipu
Banyak saham menjadi undervalue karena sentimen jangka pendek, seperti isu makro, rumor, atau kondisi pasar yang sedang pesimis. Padahal, fundamental perusahaan tidak mengalami perubahan signifikan.
Investor yang sabar justru memanfaatkan kondisi ini untuk masuk di harga yang lebih menarik. Kunci utamanya adalah membedakan antara masalah sementara dan masalah struktural.
Jika masalah hanya bersifat sementara, peluang saham undervalue terbuka lebar.
b.Jangan ikut panik saat pasar takut
Ketika pasar ramai-ramai menjual saham, tekanan harga sering kali tidak rasional. Investor yang memahami nilai perusahaan bisa melihat ini sebagai peluang, bukan ancaman.
Namun, sikap ini membutuhkan mental kuat dan keyakinan pada analisa sendiri. Tanpa analisa yang matang, membeli saham saat pasar turun justru bisa menjadi bumerang.
5.Menilai Manajemen dan Model Bisnis Perusahaan
a.Manajemen yang kredibel menambah nilai
Saham undervalue yang baik biasanya didukung oleh manajemen yang kompeten dan berintegritas. Manajemen yang berpengalaman dan konsisten akan lebih mampu membawa perusahaan melewati masa sulit.
Investor bisa melihat rekam jejak manajemen melalui laporan tahunan, strategi perusahaan, dan konsistensi kebijakan bisnis. Faktor ini sering kali diabaikan, padahal sangat menentukan nilai jangka panjang perusahaan.
b.Model bisnis yang masih relevan
Tidak semua perusahaan undervalue layak dibeli. Jika model bisnisnya sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman, harga murah justru menjadi sinyal bahaya.
Investor perlu memastikan bahwa bisnis perusahaan masih memiliki pasar dan peluang bertumbuh. Saham undervalue yang baik adalah saham perusahaan yang masih punya masa depan, bukan hanya masa lalu.
Kesimpulan
Di bagian pertama ini, kita sudah membahas cara menganalisa saham yang undervalue mulai dari membedakan saham murah dan bernilai, membaca kinerja keuangan, membandingkan valuasi, memahami sentimen pasar, hingga menilai manajemen dan model bisnis.
