Spekulasi Suksesi Korea Utara Putri Kim Jong Un Kembali Muncul di Depan Publik
Pyongyang, 2 Januari 2026 - Putri Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Kim Ju Ae, kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah kemunculannya yang sangat simbolis di depan publik pada Hari Tahun Baru 2026. Foto-foto resmi yang dirilis oleh Korean Central News Agency (KCNA) pada pagi ini menunjukkan Kim Ju Ae, yang diperkirakan berusia sekitar 12 atau 13 tahun, mendampingi ayahnya dan ibunya, Ri Sol Ju, dalam kunjungan pertama kalinya ke Kumsusan Palace of the Sun, mausoleum megah yang menyimpan jenazah pendiri negara Kim Il Sung dan ayah Kim Jong Un, Kim Jong Il. Kunjungan ini, yang dilakukan pada 1 Januari 2026 untuk menyambut tahun baru, langsung memicu gelombang spekulasi baru mengenai rencana suksesi kepemimpinan di dinasti Kim, di mana Kim Ju Ae semakin diposisikan sebagai calon penerus potensial generasi keempat.
Kemunculan Kim Ju Ae di lokasi yang begitu sakral ini bukanlah hal biasa. Kumsusan Palace of the Sun merupakan situs paling suci bagi rezim Korea Utara, tempat di mana hanya kunjungan pada tanggal-tanggal penting dan peringatan nasional yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi beserta lingkaran terdekatnya. Dalam foto-foto yang dipublikasikan KCNA, Kim Ju Ae terlihat berdiri di antara kedua orang tuanya di aula utama mausoleum, mengenakan pakaian formal dengan ekspresi serius, sementara pejabat tinggi partai dan militer membungkuk hormat di sekitar mereka. Ini adalah pertama kalinya putri Kim Jong Un menginjakkan kaki di tempat tersebut secara publik, sebuah langkah yang oleh para analis dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Kim Jong Un sedang secara bertahap memperkenalkan putrinya kepada elemen-elemen kunci kekuasaan, termasuk warisan dinasti Paekdu yang menjadi fondasi ideologi Juche.
Spekulasi mengenai Kim Ju Ae sebagai penerus ayahnya sebenarnya sudah bergulir sejak kemunculan perdananya di publik pada November 2022, saat ia mendampingi Kim Jong Un dalam peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17. Sejak itu, frekuensi kemunculannya meningkat drastis, dari parade militer, kunjungan pabrik senjata, hingga acara diplomatik, termasuk kunjungan bersejarah ke Cina pada September 2025 di mana ia menjadi "wajah pertama" keluarga Kim di panggung internasional. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) bahkan pada awal 2024 telah menyatakan bahwa Kim Ju Ae adalah "calon penerus paling mungkin", meski dengan catatan bahwa banyak variabel masih bisa berubah mengingat usia Kim Jong Un yang baru menginjak 42 tahun. Namun, kunjungan ke mausoleum ini dianggap sebagai eskalasi signifikan, karena menyentuh langsung akar legitimasi dinasti Kim yang selalu ditekankan sebagai garis keturunan suci dari Gunung Paekdu.
Para pakar Korea Utara di Seoul dan Washington langsung bereaksi atas perkembangan ini. Cheong Seong-chang, wakil presiden Institut Sejong di Korea Selatan, menyebut kunjungan ini sebagai "langkah terhitung Kim Jong Un" untuk mempersiapkan formalisasi suksesi, mungkin pada Kongres Partai Buruh yang akan datang. "Membawa Ju Ae ke Kumsusan adalah simbol bahwa ia sedang diajarkan menghormati warisan kakek dan buyutnya, sekaligus memperkenalkannya kepada elit partai sebagai bagian dari garis keturunan," ujar Cheong dalam analisisnya yang dikutip media Korea Selatan pagi ini. Sementara Michael Madden, ahli kepemimpinan Korea Utara dari Stimson Center di AS, menilai bahwa Kim Ju Ae kini telah menjadi "front runner" utama, menggeser spekulasi sebelumnya yang sempat mengarah ke adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, yang belakangan jarang muncul di sisi kakaknya.
Latar belakang kemunculan berulang Kim Ju Ae ini tidak bisa dipisahkan dari kondisi kesehatan dan strategi politik Kim Jong Un sendiri. Meski rezim Pyongyang selalu menampilkan pemimpinnya sebagai sosok tak tergoyahkan, laporan intelijen Barat dan Selatan kerap menyebut masalah kesehatan seperti obesitas dan riwayat keluarga jantung yang bisa menjadi faktor percepatan suksesi. Di tengah penguatan aliansi dengan Rusia—termasuk kunjungan Vladimir Putin dan kesepakatan militer—serta hubungan erat dengan Cina, Kim Jong Un tampak ingin memastikan transisi kekuasaan yang mulus tanpa celah yang bisa dieksploitasi musuh eksternal. Kunjungan Ju Ae ke Beijing pada 2025, di mana ia disambut pejabat tinggi Cina dan bahkan berfoto dengan Xi Jinping, sudah menjadi indikasi bahwa Pyongyang sedang membangun legitimasi internasional bagi putrinya, sesuatu yang belum pernah dilakukan untuk generasi sebelumnya pada usia semuda ini.
Di dalam negeri, media negara Korea Utara terus membangun citra Kim Ju Ae sebagai "putri tercinta" yang penuh hormat dan cerdas. KCNA dalam laporannya pagi ini menyebut kunjungan keluarga Kim ke mausoleum sebagai "ekspresi hormat mendalam kepada para pemimpin besar yang telah mendedikasikan hidupnya untuk rakyat". Foto-foto menunjukkan Kim Ju Ae membungkuk dalam-dalam di depan patung Kim Il Sung dan Kim Jong Il, sebuah gestur yang sama dengan yang dilakukan ayahnya, menegaskan kontinuitas dinasti. Ini kontras dengan masa kecil Kim Jong Un sendiri, yang baru muncul di publik setelah ayahnya sakit parah pada akhir 2000-an. Percepatan eksposur Ju Ae ini membuat beberapa analis berspekulasi bahwa Kim Jong Un ingin menghindari kekosongan kekuasaan seperti yang sempat terjadi saat kematian mendadak Kim Jong Il pada 2011.
Respons internasional terhadap kemunculan ini bercampur antara kekhawatiran dan rasa ingin tahu. Departemen Luar Negeri AS menyatakan terus memantau perkembangan kepemimpinan Korea Utara, sementara Kementerian Unifikasi Korea Selatan menolak berkomentar langsung namun mengakui bahwa profil Ju Ae semakin menonjol. Di media sosial global, tagar #KimJuAe dan #NorthKoreaSuccession langsung trending, dengan banyak netizen membandingkan putri Kim dengan figur-figur pemimpin muda di negara lain. Beberapa komentator Barat bahkan menyebut ini sebagai "soft power" versi Pyongyang, di mana citra anak perempuan yang polos digunakan untuk melunakkan image rezim yang selama ini dikenal keras. Namun, di balik itu, tetap ada kekhawatiran bahwa suksesi perempuan di masyarakat patriarkal Korea Utara bisa memicu resistensi internal dari kalangan militer yang didominasi laki-laki.
Tantangan bagi Kim Ju Ae jika benar-benar menjadi penerus tidaklah kecil. Korea Utara tetap negara dengan struktur kekuasaan yang sangat maskulin, di mana militer memegang peran sentral melalui doktrin Songun (militer pertama). Meski Kim Yo Jong telah membuktikan perempuan bisa berpengaruh, posisi tertinggi selalu dipegang laki-laki dari garis Paekdu. Beberapa pakar seperti Rachel Minyoung Lee dari Stimson Center mencatat bahwa eksposur Ju Ae telah meluas dari acara militer ke politik dan ekonomi, menunjukkan upaya sistematis membangun pengalaman. Usianya yang masih belia berarti transisi masih jauh, tapi langkah-langkah seperti kunjungan mausoleum ini bisa menjadi fondasi untuk legitimasi di masa depan.
Di sisi lain, ada spekulasi bahwa Kim Jong Un mungkin memiliki anak laki-laki lain yang lebih tua, meski belum pernah muncul di publik. Intelijen Korea Selatan memperkirakan Kim memiliki setidaknya tiga anak, tapi hanya Ju Ae yang dikonfirmasi keberadaannya oleh media negara. Dennis Rodman, mantan bintang NBA yang pernah bertemu keluarga Kim pada 2013, adalah orang pertama yang menyebut nama Ju Ae kepada dunia luar. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, gadis yang dulu digambarkan sebagai "bayi tercinta" telah bertransformasi menjadi figur publik yang semakin dewasa dan percaya diri dalam penampilan resminya.
Kunjungan ke Kumsusan ini juga datang di saat Korea Utara sedang memperkuat postur militernya. Sepanjang 2025, Pyongyang melakukan serangkaian uji coba rudal dan satelit pengintai, serta memperdalam kerjasama dengan Moskwa yang termanifestasi dalam pengiriman pasukan ke Ukraina. Kemunculan Ju Ae di tengah-tengah itu bisa dibaca sebagai pesan bahwa rezim tetap stabil dan dinasti Kim siap melanjutkan ke generasi berikutnya, tanpa terganggu sanksi internasional atau tekanan eksternal. Bagi rakyat Korea Utara, yang hanya mengakses informasi melalui media negara, citra keluarga Kim yang harmonis ini menjadi penguat propaganda bahwa negara dipimpin oleh garis keturunan ilahi.
Secara keseluruhan, kemunculan kembali Kim Ju Ae di depan publik pada awal 2026 ini, khususnya di situs paling sakral negara, telah memperkuat spekulasi bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai penerus Kim Jong Un. Meski rezim Pyongyang belum pernah secara resmi mengonfirmasi rencana suksesi, pola kemunculan yang semakin sering dan strategis ini sulit diabaikan oleh pengamat dunia. Di tahun yang baru dimulai ini, mata internasional akan terus tertuju pada gadis remaja yang mungkin suatu hari nanti memegang kendali atas negara bersenjata nuklir tersebut. Apakah ini benar-benar awal dari era kepemimpinan perempuan di Korea Utara, atau hanya bagian dari strategi jangka panjang Kim Jong Un, waktu yang akan menjawab. Yang pasti, dinasti Kim terus menulis babak baru dalam sejarah panjang isolasi dan misteri mereka.
