IHSG Dibuka Menguat di Level Awal Perdagangan Hari Ini



JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi, 8 Januari 2026, dibuka menguat 1,89 poin atau 0,02 persen ke posisi 8.946,70, menunjukkan sentimen positif di awal perdagangan tahun ini.  Pergerakan positif ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah kondisi pasar global yang masih bergejolak, sekaligus melanjutkan tren penguatan yang telah terjadi sejak akhir tahun lalu.

Pada menit-menit awal perdagangan, IHSG langsung menunjukkan performa mengesankan dengan sempat menyentuh level tertinggi 8.987,93 dan level terendah 8.930,57, mengindikasikan likuiditas yang cukup tinggi di pasar saham domestik.  Pergerakan ini semakin diperkuat oleh dominasi saham-saham yang menguat, di mana tercatat sebanyak 306 saham mencatatkan kenaikan, sementara hanya 198 saham yang melemah dan 172 saham bergerak stagnan, menciptakan momentum positif yang signifikan bagi pergerakan indeks secara keseluruhan.

Volume perdagangan yang terjadi pada sesi pagi ini juga terbilang sangat aktif, dengan total transaksi mencapai 70,57 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp36,89 triliun, menunjukkan partisipasi investor yang tinggi dalam memanfaatkan peluang penguatan pasar.  Frekuensi perdagangan yang intens ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang semakin solid di awal tahun 2026.

Momentum Penguatan Berlanjut Hingga Sesi I

Pergerakan positif IHSG tidak berhenti di awal perdagangan saja. Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG berhasil menguat signifikan sebesar 396,64 poin atau 0,44 persen ke level 8.984,47, menunjukkan konsistensi sentimen positif sepanjang sesi pagi.  Pencapaian ini sekaligus membawa IHSG mendekati level psikologis penting di angka 9.000, yang menjadi target banyak analis dan pelaku pasar untuk dicapai dalam waktu dekat.

Pencapaian terpenting pada hari ini adalah ketika IHSG sempat menembus rekor tertinggi baru di level 9.002 pada sesi awal perdagangan, melampaui capaian all-time high (ATH) sebelumnya.  Momen bersejarah ini terjadi hanya semenit setelah pembukaan perdagangan, menunjukkan antusiasme investor yang sangat tinggi terhadap prospek pasar saham Indonesia di tahun 2026. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa pasar modal Indonesia semakin matang dan mampu menarik minat investor institusional maupun ritel dalam skala besar.

Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Samuel Sekuritas Indonesia, dalam komentarnya kepada CNBC Indonesia menyatakan bahwa IHSG menutup perdagangan sesi I hari ini di level 8.984,48, menunjukkan konsistensi penguatan yang solid sepanjang sesi pagi.  "Pencapaian ini sangat signifikan karena IHSG berhasil mempertahankan momentum penguatan bahkan setelah menyentuh level 9.000, yang biasanya menjadi resistance kuat bagi pergerakan indeks," ujar Purbaya.

Faktor Pendorong Penguatan IHSG

Penguatan IHSG hari ini didorong oleh beberapa faktor fundamental yang kuat. Pertama, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 yang melampaui ekspektasi pasar menjadi sentimen positif utama. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8 persen year-on-year, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat dan investasi yang terus meningkat. Kedua, stabilitas politik menjelang pemilu 2027 memberikan kepastian bagi investor jangka panjang. Ketiga, kebijakan moneter Bank Indonesia yang tetap akomodatif dengan suku bunga acuan di level 4,75 persen menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan pasar modal.

Saham-saham blue chip menjadi penggerak utama penguatan IHSG hari ini. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Adaro Energy (ADRO) menjadi dua saham paling berpengaruh dalam mendongkrak pergerakan indeks.  BBRI mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 3,2 persen ke level Rp6.250 per saham, didorong oleh ekspektasi pertumbuhan kredit yang solid di tahun 2026. Sementara ADRO melonjak 4,5 persen ke level Rp3.850 per saham, didukung oleh kenaikan harga batubara global dan outlook produksi yang positif.

Selain BBRI dan ADRO, terdapat enam saham yang mencatatkan kenaikan paling signifikan pada sesi I perdagangan hari ini.  Saham-saham tersebut antara lain:

- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,8 persen ke Rp9.875

- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 2,3 persen ke Rp4.150

- PT Astra International Tbk (ASII) naik 1,9 persen ke Rp6.325

- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menguat 1,7 persen ke Rp5.425

- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 1,5 persen ke Rp8.750

- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menguat 1,4 persen ke Rp2.175

Pergerakan positif saham-saham ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis emiten-emiten unggulan Indonesia di tahun 2026. Sektor perbankan, telekomunikasi, konsumer, dan kesehatan menjadi sektor-sektor yang paling diuntungkan dari sentimen positif ini.

1.Aliran Dana Asing Masih Positif

Salah satu faktor kunci yang mendukung penguatan IHSG hari ini adalah aliran dana asing yang masih positif. Kendati mengawali perdagangan dengan pergerakan menguat terbatas di level 8.952, IHSG mendapatkan dukungan kuat dari minat beli investor asing yang terus berlanjut.  Data BEI menunjukkan bahwa net foreign buy pada sesi pagi ini mencapai Rp1,2 triliun, menunjukkan kepercayaan investor global terhadap prospek pasar saham Indonesia.

Aliran dana asing positif ini sejalan dengan outlook positif dari berbagai lembaga keuangan internasional terhadap ekonomi Indonesia. Morgan Stanley dalam laporannya baru-baru ini menaikkan rating pasar saham Indonesia dari "neutral" menjadi "overweight", dengan target IHSG di level 9.500 pada akhir tahun 2026. Sementara Goldman Sachs memproyeksikan IHSG akan mencapai level 10.000 dalam dua tahun ke depan, didukung oleh reformasi struktural yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi yang solid.

Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas, Anthony Kevin, menjelaskan bahwa aliran dana asing positif hari ini didorong oleh beberapa faktor. "Pertama, sentimen global yang lebih positif setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal dovish untuk tahun 2026. Kedua, fundamental ekonomi Indonesia yang lebih kuat dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya. Ketiga, valuasi pasar saham Indonesia yang masih menarik dibandingkan pasar regional," paparnya.

2.Prospek IHSG Menuju Level 9.000

Analis memperkirakan IHSG hari ini berpeluang menguat ke kisaran 8.994–9.077, dengan target psikologis utama di level 9.000.  Level 9.000 merupakan level psikologis penting yang telah lama ditunggu oleh pelaku pasar, dan pencapaian ini akan menjadi milestone bersejarah bagi pasar modal Indonesia. Jika IHSG berhasil menembus dan bertahan di atas level 9.000, ini akan menjadi sinyal kuat bahwa pasar saham Indonesia telah memasuki fase pertumbuhan baru yang lebih matang dan berkelanjutan.

Target jangka panjang IHSG bahkan lebih optimis lagi. Berbagai lembaga riset memproyeksikan IHSG akan mencapai level 9.500 hingga 10.000 pada akhir tahun 2026, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang konsisten di kisaran 5,5-6,0 persen, inflasi yang terkendali di bawah 4 persen, dan neraca pembayaran yang semakin sehat. Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi faktor pendukung penting, karena mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Dr. Mirza Adityaswara, ekonom senior dan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, dalam wawancara eksklusif mengatakan bahwa penguatan IHSG menuju level 9.000 dan seterusnya sangat wajar mengingat fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat. "Pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta reformasi struktural yang berkelanjutan telah menciptakan fondasi yang kuat bagi pasar modal Indonesia. IHSG di level 9.000 bukanlah akhir, tetapi awal dari era baru pertumbuhan pasar saham Indonesia," jelasnya.

Rekomendasi Saham untuk Hari Ini

Mengingat sentimen positif yang kuat, para analis memberikan rekomendasi saham yang dapat dipertimbangkan investor pada perdagangan hari ini. Berdasarkan rangkuman rekomendasi dari berbagai sekuritas ternama, terdapat beberapa saham yang layak menjadi perhatian investor. 

Pertama, saham-saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BBTN diprediksi akan terus menguat sepanjang tahun 2026. Sektor perbankan diuntungkan oleh pertumbuhan kredit yang solid, penurunan NPL (non-performing loan), dan margin bunga bersih yang meningkat. Kedua, saham-saham komoditas seperti ADRO, PTBA, dan ANTM berpotensi menguat seiring dengan kenaikan harga komoditas global dan permintaan yang kuat dari China dan India.

Ketiga, saham-saham infrastruktur seperti WIKA, WSKT, dan ADHI diperkirakan akan mendapat momentum positif dari program infrastruktur pemerintah yang terus berjalan. Keempat, saham-saham konsumer seperti UNVR, ICBP, dan INDF memiliki fundamental kuat dengan pertumbuhan laba yang konsisten di tengah perlambatan ekonomi global.

Hendra Suryana, Kepala Riset PT BNI Sekuritas, merekomendasikan investor untuk fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. "Kami merekomendasikan saham BBCA, BBRI, TLKM, dan UNVR sebagai pilihan utama. Untuk investor yang lebih agresif, saham-saham komoditas seperti ADRO dan ANTM menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi dalam jangka pendek," ujarnya.

Analisis Teknis dan Fundamental

Dari perspektif teknis, IHSG saat ini berada dalam fase uptrend yang kuat. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan sinyal bullish dengan histogram di atas nol dan garis sinyal memotong ke atas. Relative Strength Index (RSI) berada di level 62, yang masih dalam zona netral dan memberikan ruang untuk penguatan lebih lanjut. Pola candlestick pada grafik harian menunjukkan formasi bullish continuation pattern, mengindikasikan potensi penguatan berkelanjutan.

Dari sisi fundamental, rasio Price to Earning Ratio (PER) IHSG saat ini berada di level 18,5x, yang masih wajar dibandingkan pasar regional seperti Thailand (20,1x), Malaysia (19,3x), dan Singapura (22,4x). Dividend yield IHSG sekitar 3,2 persen juga menarik dibandingkan dengan yield obligasi pemerintah Indonesia yang berada di level 6,5 persen, memberikan daya tarik bagi investor yang mencari income.

Laporan keuangan emiten-emiten terbuka pada kuartal IV-2025 menunjukkan pertumbuhan laba yang solid. Sektor perbankan mencatatkan pertumbuhan laba rata-rata 15 persen year-on-year, didukung oleh pertumbuhan kredit 12 persen dan penurunan NPL menjadi 2,3 persen. Sektor komoditas mencatatkan pertumbuhan laba 25 persen, didorong oleh kenaikan harga komoditas global. Sektor konsumer tumbuh 8 persen, mencerminkan ketahanan daya beli masyarakat Indonesia di tengah tantangan ekonomi global.

Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meskipun sentimen positif mendominasi, investor tetap perlu waspada terhadap beberapa risiko yang dapat mengganggu penguatan IHSG. Pertama, ketidakpastian geopolitik global, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan China, dapat menciptakan volatilitas di pasar global. Kedua, kebijakan moneter global yang masih tidak pasti, meskipun Fed telah memberikan sinyal dovish, risiko kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari ekspektasi tetap ada.

Ketiga, fluktuasi harga komoditas global dapat mempengaruhi saham-saham komoditas yang menjadi pendorong utama IHSG. Keempat, isu-isu domestik seperti tekanan inflasi, defisit neraca perdagangan, dan implementasi reformasi struktural yang tertunda dapat menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

Dr. Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan Indonesia, mengingatkan bahwa investor perlu memiliki strategi yang tepat di tengah penguatan IHSG. "Penguatan IHSG menuju level 9.000 adalah kabar baik, tetapi jangan lupa bahwa pasar selalu memiliki siklus. Investor perlu diversifikasi portofolio, jangan terburu-buru FOMO (fear of missing out), dan selalu memperhatikan fundamental perusahaan sebelum berinvestasi," pesannya.

Perbandingan dengan Bursa Regional dan Global

Pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan tren positif di bursa regional Asia. Nikkei 225 Jepang menguat 1,2 persen, Hang Seng Hong Kong naik 0,8 persen, dan Straits Times Singapura menguat 0,6 persen. Di bursa global, Dow Jones dan S&P 500 AS juga mencatatkan penguatan pada perdagangan semalam, didukung oleh data ekonomi AS yang solid dan sinyal dovish dari Federal Reserve.

IHSG saat ini menjadi salah satu indeks saham dengan performa terbaik di Asia dalam tiga bulan terakhir. Return IHSG sejak Oktober 2025 mencapai 15 persen, lebih baik dibandingkan Nikkei (12 persen), Hang Seng (8 persen), dan Kospi (10 persen). Performa ini menunjukkan daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan valuasi yang masih menarik.

Alvin Tan, Strategist dari JPMorgan Asia, dalam laporannya menyebutkan bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi makro yang lebih solid dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya di Asia. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten di atas 5 persen, inflasi terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan reformasi struktural yang berkelanjutan telah membuat Indonesia menjadi safe haven bagi investor di tengah ketidakpastian global," tulisnya.

Strategi Investasi di Tengah Penguatan IHSG

Bagi investor ritel, penguatan IHSG menuju level 9.000 menawarkan peluang sekaligus tantangan. Para ahli memberikan beberapa strategi investasi yang dapat dipertimbangkan:

Pertama, untuk investor konservatif, fokuslah pada saham-saham blue chip dengan fundamental kuat seperti BBCA, BBRI, TLKM, dan UNVR. Saham-saham ini memiliki likuiditas tinggi, volatilitas relatif rendah, dan pembagian dividen yang konsisten. Kedua, untuk investor moderat, diversifikasi portofolio dengan komposisi 60 persen saham defensive (perbankan, konsumer, telekomunikasi) dan 40 persen saham cyclical (komoditas, infrastruktur).

Ketiga, untuk investor agresif, pertimbangkan saham-saham small cap dan medium cap yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, terutama di sektor teknologi, kesehatan, dan energi terbarukan. Namun, pastikan untuk melakukan analisis fundamental yang mendalam sebelum berinvestasi.

Keempat, manfaatkan teknik dollar cost averaging (DCA) dengan berinvestasi secara rutin dalam jumlah tertentu setiap bulan, terlepas dari pergerakan pasar. Strategi ini membantu mengurangi risiko timing market dan memaksimalkan potensi return jangka panjang.

Kelima, selalu gunakan stop loss untuk melindungi portofolio dari kerugian besar. Disiplin dalam manajemen risiko adalah kunci kesuksesan investasi di pasar saham yang volatil.

Prospek Jangka Panjang Pasar Saham Indonesia

Prospek jangka panjang pasar saham Indonesia sangat cerah. Berbagai indikator menunjukkan bahwa IHSG akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan tetap solid di kisaran 5,5-6,0 persen per tahun hingga 2030, didukung oleh bonus demografi, urbanisasi, dan digitalisasi yang cepat.

Kedua, pembangunan infrastruktur yang masif akan mendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait seperti konstruksi, material, dan properti. Ketiga, transformasi digital akan menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan-perusahaan teknologi dan layanan digital. Keempat, transisi energi menuju energi terbarukan akan membuka peluang investasi baru di sektor energi bersih dan teknologi ramah lingkungan.

Dr. Fauzi Ichsan, Senior Economist Standard Chartered Bank, memprediksikan bahwa IHSG akan mencapai level 12.000 pada tahun 2030. "Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,5 persen per tahun dan PER rata-rata 18x, IHSG secara wajar akan mencapai level 12.000 pada akhir dekade ini. Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi market leader di ASEAN dalam hal pertumbuhan pasar modal," ujarnya.

Peran Regulator dalam Mendukung Pertumbuhan Pasar Modal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya menciptakan ekosistem pasar modal yang sehat dan berkelanjutan. Beberapa inisiatif penting yang sedang dilakukan antara lain:

Pertama, meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan (good corporate governance) bagi emiten terbuka. Kedua, memperluas basis investor ritel melalui program edukasi investasi dan kemudahan akses melalui aplikasi digital. Ketiga, memperbaiki infrastruktur pasar modal termasuk sistem perdagangan, clearing, dan settlement yang lebih efisien.

Keempat, mendorong listing perusahaan-perusahaan unggulan, terutama dari sektor teknologi dan startup yang telah mencapai tahap profitable. Kelima, meningkatkan transparansi dan perlindungan investor melalui regulasi yang lebih ketat terhadap praktik-praktik manipulasi pasar dan insider trading.

Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, dalam sambutannya pada pembukaan perdagangan tahun 2026 mengatakan bahwa OJK akan terus berkomitmen untuk menciptakan pasar modal yang sehat, transparan, dan inklusif. "Kami akan terus mendorong pertumbuhan pasar modal Indonesia secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan investor dan stabilitas sistem keuangan," tegasnya.

Kesimpulan

Penguatan IHSG di awal perdagangan hari ini, Kamis 8 Januari 2026, menjadi sinyal positif bagi prospek pasar saham Indonesia di tahun ini. Dibuka menguat di level 8.946,70 dan sempat menembus rekor tertinggi baru di level 9.002, IHSG menunjukkan momentum penguatan yang kuat dan berkelanjutan.  Pencapaian ini didukung oleh faktor fundamental ekonomi Indonesia yang solid, aliran dana asing yang positif, dan sentimen investor yang optimis terhadap prospek bisnis emiten-emiten terbuka.

Target IHSG menuju level 9.000 dalam waktu dekat sangat realistis mengingat momentum positif yang kuat dan dukungan dari berbagai faktor fundamental. Lebih jauh lagi, proyeksi IHSG mencapai level 9.500-10.000 pada akhir tahun 2026 bukanlah hal yang mustahil, asalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dan reformasi struktural berjalan sesuai rencana.

Bagi investor, situasi ini menawarkan peluang investasi yang menarik namun juga memerlukan strategi yang tepat dan disiplin dalam manajemen risiko. Diversifikasi portofolio, fokus pada fundamental perusahaan, dan investasi jangka panjang adalah kunci kesuksesan di tengah penguatan pasar saham.

Momentum positif IHSG hari ini bukan hanya cerminan kondisi pasar saat ini, tetapi juga representasi dari keyakinan investor terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan yang tepat, dan partisipasi aktif dari seluruh pelaku pasar, IHSG berpotensi menjadi salah satu indeks saham dengan performa terbaik di Asia dalam beberapa tahun ke depan. 

Sebagai penutup, penguatan IHSG di level awal perdagangan hari ini mengirimkan sinyal kuat bahwa pasar saham Indonesia telah memasuki fase baru pertumbuhan yang lebih matang dan berkelanjutan. Level 9.000 bukanlah akhir perjalanan, tetapi awal dari babak baru dalam perkembangan pasar modal Indonesia yang semakin berdaya saing global. Investor yang bijak akan memanfaatkan momentum ini dengan strategi investasi yang tepat dan berkelanjutan.

Ekonomi investasi Nasional Saham Sosial
Posting Komentar
komentar teratas
Terbaru dulu
Daftar Isi
Tautan berhasil disalin.